SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Friendship is not a lesson you can learn in the school. But you have not learned anything if you haven't learned the meaning of friendship. (Shufi Salsabila)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan merupakan hiasan kemakmuran serta tempat perlindungan dalam kesulitan. (Aristoteles)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri. (JOHN DEWEY)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan mempunyai akar yang pahit tapi buahnya manis. (Aristoteles)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Di depan memberi teladan,Di tengah memberi bimbingan, Di belakang memberi dorongan. (Ki. Hajar Dewantara)

Wednesday, May 31, 2023

Menyelidiki Ketidakadilan dan Tantangan Demokrasi

Menyelidiki Ketidakadilan dan Tantangan Demokrasi

Karya: Wahyu Prasetia Ningrum

Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan salah satu
demokrasi terbesar, telah mengalami perkembangan signifikan sejak transisi ke demokrasi pada tahun 1998. Namun, di balik kemajuan tersebut, tetap ada tantangan yang perlu diatasi, termasuk masalah ketidakadilan yang melanda masyarakat Indonesia. Menyelidiki ketidakadilan dan tantangan demokrasi di Indonesia menjadi penting untuk memperbaiki sistem dan memastikan keadilan bagi semua warga negara.
Pertama-tama, ketidakadilan sosial-ekonomi adalah salah satu masalah serius yang
menghadang kemajuan demokrasi di Indonesia. Meskipun terdapat pertumbuhan ekonomi yang pesat, kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat yang kaya dan miskin tetap menjadi kenyataan yang memprihatinkan. Sebagian besar masyarakat pedesaan, perempuan, dan kelompok minoritas masih mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, lapangan kerja yang layak, perumahan, dan layanan kesehatan yang memadai. Ketidakadilan sosial-ekonomi ini menyebabkan kesenjangan yang dalam dalam hal kemampuan dan peluang, dan mengancam prinsip demokrasi yang menyatakan persamaan dan inklusi.
Kedua, tantangan demokrasi yang dihadapi Indonesia adalah ketidakadilan gender.
Meskipun langkah-langkah positif telah diambil untuk memperjuangkan kesetaraan gender, ketidakadilan masih ada dalam berbagai bentuk. Perempuan sering mengalami diskriminasi dalam akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keputusan politik. Kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual, juga masih menjadi masalah serius yang mempengaruhi kehidupan perempuan di Indonesia. Ketidakadilan gender ini merusak prinsip inklusi dan partisipasi dalam demokrasi.
Selain itu, tantangan lain yang harus dihadapi adalah ketidakadilan dalam sistem
hukum. Keadilan dan independensi sistem peradilan sering kali dipertanyakan. Kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan pengaruh politik yang mempengaruhi keputusan pengadilan sering terjadi. Hal ini menciptakan ketidakadilan bagi individu yang menghadapi sistem hukum yang tidak adil. Demokrasi membutuhkan sistem peradilan yang adil dan independen, di mana setiap warga negara memiliki akses yang sama terhadap perlindungan hukum.
»»  Baca Selengkapnya...

Review Buku - SOEDIRMAN: Seorang Panglima, Seorang Martir

Review Buku - SOEDIRMAN: Seorang Panglima, Seorang Martir

Karya: Andika Ramadhan

A. Identitas Buku
  1. Judul buku : SOEDIRMAN: Seorang Panglima, Seorang Martir
  2. Penulis : Tempo
  3. Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  4. Tahun terbit : 2012
  5. Tempat penerbitan : Jakarta
  6. ISBN : 978-979-91-0524-0
B. Sinopsis

Buku ini menjelaskan tentang perjuangan jenderal Soedirman, dimulai dari
bagaimana jenderal Soedirman dipilih menjadi panglima melalui sidang revolusioner dengan suara terbanyak, kemudian perjuangan melawan Belanda yang dipimpin oleh Spoor, kemudian siasat-siasat jenderal Soedirman salah satunya adalah perang yang terkenal yaitu perang gerilya, kemudian bagaimana jenderal Soedirman dan pengikutnya mampu menipu Belanda dengan Soedirman palsu di atas tandu, kemudian juga buku ini menceritakan asal mula Soedirman menjadi panglima dimulai dari beliau menjadi tentara bentukan Jepang, dan buku ini juga menceritakan tentang jenderal Soedirman yang perokok berat sehingga organ paru-parunya terganggu.

C. Kelebihan Buku

Buku ini memiliki kelebihan menurut saya karena buku ini menggambarkan
jenderal Soedirman melalui rentetan sejarah Indonesia dan apa saja peranannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengontrol kudeta, sehingga dapat dikatakan buku ini lengkap menggambarkan jenderal Soedirman.

D. Penilaian

Buku ini menurut dari rentang poin 1-10 adalah 8,5

E. Simpulan

Buku ini menurut saya sangat bagus dan direkomendasikan untuk dibaca, buku ini
berkesan bagi saya karena buku ini hadir untuk menggambarkan jenderal Soedirman, peranannya, serta tokoh-tokoh terkait dengan gamblang.

Tim BUKU TEMPO. (2013). Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir (1st ed.).
Kepustakaan Populer Gramedia. (Original work published 2012).
»»  Baca Selengkapnya...

Pulang Sendiri

Pulang Sendiri

Karya: Sendi Tri Nugraha

Hujan dengan senja,
biarlah mereka ada disaat kita mulai saling berhadap,
serta tak mampu berkata kata.

Semesta,
tidak harus ku salahkan senja yang menghilang,
kala ia tiba untuk pulang,
tidak harus ku salahkan hujan yang berjatuhan,
kala ia membasahi tangisan,

yang salah adalah diriku,
yang hadir lalu pergi berpamitan.
»»  Baca Selengkapnya...

Monday, November 28, 2022

Mereka Yang Berjuang Sejak Awal

 Mereka Yang Berjuang Sejak Awal

Karya: Meldavero

Mereka yang berjuang dengan mimpi yang banyak
Bertahan tanpa adanya biaya dan fasilitas yang layak
Di tempat yang sempit berusaha menghasilkan karya terbaik

Diselingi kecaman pihak luar 
Berusaha bertahan dan kuat ketika didepan layar

Banyak harapan diutarakan
Berharap kesuksesan menghampiri mereka kedepan
Dan mendapatkan banyak cinta dibandingkan hinaan

Sekarang, mereka tumbuh menjadi 7 manusia sukses
Dengan berbagai penghargaan dari segala proses
Dan kini mereka menjadi kebanggaan negara dan muncul di majalah forbes

-mv
»»  Baca Selengkapnya...

Hati dan Waktu

 Hati dan Waktu 

Karya: Nida Azhar

Kau tahu? 
Saat kau datang,aku selalu terdiam
Saat kau tersenyum,aku tetap terdiam
Saat kau tertawa, aku pun pergi

Kau tahu?
Karena kedatanganmu membuatku beku
Senyummu menghangatkan hatiku
Dan tawamu menyadarkanku,tak ada tempat untukku di sisimu

Kau tahu?
Saat bulan melambai pada bintang di malam hari
Aku justru mencoba berlari,menghindari pagi

Kau tahu?
Karena hanya saat malam,aku bebas bermimpi tentang mu
Hanya saat malam aku bebas tertawa bersama
Dan hanya saat malam, aku selalu berdoa pagi datang terlambat
»»  Baca Selengkapnya...

Husein Ja'far Al Hadar Habib Milenial di Kalangan Pemuda

 Husein Ja'far Al Hadar Habib Milenial di Kalangan Pemuda

Karya: Noval Helmi Aji


A. Latar belakang

Habib Husein ja’far Al hadar, S.Fil.I, M.Ag atau yang lebih akrab dipanggil dengan nama
Habib jafar ini lahir di Bondowoso, Jawa Timur pada tanggal 21 Juni 1988.Beliau merupakan
orang Madura asli yang memiliki garis keturunan sampai dengan Nabi Muhammad SAW.Beliau
merupakan pendakwah dan penulis Indonesia.

Tamatan pesantren di Pondok Pesantren YAPI di daerah Bangil, Jawa Timur ,sebuah
pondok pesantren berbasis Syi'ah yang juga terbuka terhadap ajaran mazhab lain.Kemudian
menempuh pendidikan S1 filsafat Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan melanjutkan
pendidikan Magister di Universitas yang sama sebagai lulusan Tafsir Qur’an.

Selain menjadi seorang pendakwah dan penulis,beliau juga merupakan Direktur Akademi
Kebudayaan Islam Jakarta, dan aktivis Gerakan Islam Cinta.Cara berpenampilan yang berbeda
dari tampilan seorang Habib pada umumnya,lebih sederhana dan terlihat seperti anak muda
membuatnya bisa diterima dikalangan pemuda. Kerap kali terlihat tampil hanya menggunakan
kaos,celana jeans serta peci putih menjadikan itu seperti ciri khas beliau. Pembawaannya juga
lebih santai dan tidak terkesan kaku saat beliau bicara menyampaikan isi materinya lebih disukai
kalangan milenial sekarang.

Habib jafar merintis karier melalui dunia literasi (kepenulisan) di media-media nasional
sejak kuliah.Sampai saat ini beliau sudah menjadi penulis di beberapa media nasional di
Indonesia, seperti Kompas, Tempo , dan Jawa Pos. Beliau juga telah menulis beberapa buku,
seperti buku Menyegarkan Islam Kita,Anakku Dibunuh Israel, Islam "Mazhab" Fadlullah, dan
yang paling terkenal adalah Tuhan Ada di Hatimu yang diterbitkan oleh Noura Books.

Selain memanfaatkan media tulis,Habib ja'far juga memanfaatkan media digital seperti
membuat kanal youtube “jeda nulis” untuk media dakwahnya.Beliau juga sering berkolaborasi
dengan kanal youtube lain contohnya podcast dedi combuzer dan MLI untuk mensyiarkan
dakwahnya.Beliau juga aktif dimedia sosial instagram dan lainnya,menurutnya dakwah tidak
hanya dapat dilakukan di mimbar-mimbar masjid ataupun majelis taklim.

B. Dakwah digital Habib Husein ja’far Al hadar
Habib jafar tampil dengan keunikannya sendiri,dijuluki Habib milenial karena beliau pernah berkata jika objek dakwahnya anak muda,sehingga beliau mengikuti cara berpakainnya dengan harapan bisa diterima dakwahnya. Tutur katanya yang halus nan lembut, serta tidak terkesan meledak-ledak, dan senyum yang selalu menghiasi beliau, menjadi ciri khas tersendiri bagi sosok Habib Ja’far Al Hadar.
Merintis awal karirnya dengan tulisannya di berbagai platform media massa, menjadikan Habib Jafar hanya konsen di kepenulisan saja. Akan tetapi berangkat dari keresahan beliau melihat media sosial saat ini yang hanya diisi oleh konten negatif seperti ujaran kebencian,serta berita hoaks, mendorongnya untuk tampil di depan layar.Ditambah kondisi saat ini yang sedang dilanda wabah virus corona yang membatasi gerak masyarakat agar tidak berkerumun untuk menurunkan jumlah penyebaran.Beliau pun membuat kanal youtube “Jeda Nulis”,hingga terakhir dilihat telah memiliki kurang lebih 645 ribu subscriber, mereka semua itu adalah ‘Jamaah Al Digitaliyah’ Habib Husein Ja’far. Media sosial menjadi salah satu media yang dipilihnya karena melihat masyarakat menghendaki ke berislam secara instan dengan berdalih ingin berhijrah. Sehingga kebiasaan masyarakat saat ini bisa dibilang ingin mengetahui Islam namun tidak mau susah harus menjadi santri, belajar kitab, dan belajar bahasa arab.Sehingga berislam seperti inilah yang dirasa tidak sehat dan dikhawatirkan Habib jafar tidak akan komprehensif dan holistik (menyeluruh) sampai ke akarnya..

C. Kolaborasi Youtube untuk memperluas dakwah digital

Untuk meningkatkan peminat anak muda terhadap dakwahnya Habib jafar terlihat
berkolaborasi dengan salah satu Kumpulan Komika Indonesia yaitu kanal youtube Majelis Lucu
Indonesia di media youtube MLI. Beliau hadir sebagai seorang pembicara pada program
“Kultum Pemuda Tersesat”. Bersama host yang merupakan seorang komika yaitu Tretan Muslim
dan juga Coki Pardede, beliau menjawab berbagai pertanyaan dari para ‘Pemuda Tersesat’ yaitu
sebutan Tretan Muslim dalam acara tersebut. Pertanyaannya pun beragam, mulai dari yang berat
bersifat substansial dan prinsipil, hingga pertanyaaan yang aneh-aneh. Akan tetapi semuanya
dijawab dengan mudah, ringkas, dan juga dibumbui dengan guyonan-guyonan ala Habib Jafar
dan MLI. Alhasil, program yang terbit selama Ramadan itu, disambut positif oleh para warganet
kita. Banyak yang tertarik dengan program tersebut, karena dirasa ‘kekinian banget’ dan juga
sesuai kebutuhan masyarakat kita saat ini, terutama kaum-kaum awam.
»»  Baca Selengkapnya...

Friday, September 30, 2022

Dialog Hari Ini

 Dialog Hari Ini

Karya: Mozella Pascalina Joel

00.18 WIB

Mataku masih belum menemukan titik lelahnya. Bagiku sendiri ini bukan hal yang mengejutkan
karena dialog dini hari memang selalu menguras energi. Aku sendiri heran bagaimana bisa suara
itu muncul memecah kesunyian malam. Sudah sering aku mencoba untuk diam dan tidak
berdialog, berharap raga ini beristirahat untuk menghadapi pahitnya kenyataan besok, tapi tetap
saja suara itu selalu menggangu waktu tidurku.

01.18 WIB

Satu jam berlalu dan suara itu masih terdengar dikepalaku. Mempertanyakan hal yang sama
disetiap malamnya. Dialog yang diulang-ulang membuatku sakit kepala, sampai rasanya aku
ingin berteriak hingga terdengar ke ruangan sebelah. Dialog bodoh yang disebut “Overthinking”
oleh budak korporat Jakarta selatan itu, membuatku enggan untuk menghadapi malam-malam
selanjutnya. Aku muak berdialog dengannya. Aku benar-benar muak dengan dialog bodohnya
yang selalu memposisikan aku sebagai manusia malang dan tidak layak disandingkan dengan
nama - nama yang terlintas dikepalaku.
Ah... sudahlah, cukup untuk malam ini, biarkan mataku mengikuti kehendakku dulu, biarkan
aku tidur di ranjang biru dengan motif bulan sabit ini , daripada harus berdialog dengannya lagi,
karena jika itu terjadi aku akan kembali menyadari kalau aku hanya seorang gadis tidak percaya
diri yang hanya ingin menjadi sempurna dan tenang sejenak, dan berharap jauh dari suara-suara
bising kehidupan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

06.00 WIB

Aku berhasil mengistirahatkan raga khususnya mataku, kurasa fajar berhasil membisukannya
hingga aku lupa dengan dialog semalam. Dialog pagi ini dimulai dengan kesunyian lagi, bedanya
aku merasa damai dengan suasana kamarku yang sebenarnya tidak berubah sejak 5 tahun lalu.
Mungkin karena aku berdialog dengan suara yang selalu mengerti aku, suara dari sosok yang
tidak terlihat tapi ada, yang tidak terdengar bunyi langkah kakinya namun aku bisa merasakan keberadaannya lewat hembusan angin sejuk dari jendela kamarku. Setidaknya dialog pagi hari
tidak sama dengan dini hari. Setidaknya lebih baik... Ya, selalu lebih baik.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

12.00 WIB (Tengah Hari)

Aku sudah berada di ruang kesunyian yang lain, bedanya ini bukan ruangan berdinding putih
dengan ranjang dan foto-foto kebanggaanku, namun ruangan putih sunyi yang dipenuhi rak buku
dan meja-meja kayu. Pelarian selain berdialog dengan suara tadi pagi, adalah tempat ini. Sudah
dua tahun aku tidak duduk di sudut ruangan ini, membaca lembar demi lembar, sambil sesekali
menatap lalu lintas kota.

13.30 WIB (Ketika aku memasuki halaman ke-26.)

“Menurutmu apa tujuan kamu hidup , kok tidak pernah terlihat seperti mereka, selayak itukah
kamu disandingkan dengan mereka, menurutmu apa mereka akan mengakuimu seperti apa yang
kamu yakini ? Mungkinkan kamu bisa menjadi seperti mereka ? kamu kan tidak seperti mereka,
kamu jauh dibawah mereka !” .
Sial, suara itu muncul di tengah hari, biasanya dia hanya mampu menggangu dini hari ku bukan
tengah hariku. Bukan, ini bukan suara pagi hari, ini suara dini hari, aku yakin betul itu dia. Aku
terpaku dan langsung memejamkan mata, aku hanya berharap suara pagi hari bisa melawan suara
dini hari yang merasukiku di siang hari.
“Tidak, aku tidak seperti itu, aku hanya butuh waktu dan dukungan, aku hanya butuh menunggu,
jadi tolong, diamlah !” Bentak batinku yang berusaha melawan suara dini hari.
“Oh ya ? Kalau begitu kenapa kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri, bukankah dialog kita
semalam menjelaskan semuanya, bahwa kamu tidak seperti mereka, atau perlu kuingatkan lagi
nama - nama mereka ?” Jelasnya dengan semakin keras.
“Mereka ?” Tanya batinku sambil menerka-nerka
“Ya...Mereka, orang-orang yang kamu validasi dengan kata sempurna, nama-nama yang
berdiri besama denganmu di garis start yang sama!” Jelasnya semakin menggebu-gebu. “Cukup, jangan rusak siang hariku, biarkan aku menyelesaikan tujuanku kesini, aku tidak mau
berdialog denganmu” Ucap batinku memutus dialog dengan suara dini hari.
Sejujurnya saat situasi seperti ini aku selalu ingin menangis, aku menahan air mata agar tidak
membasahi buku yang sedang kubaca. Aku berharap suara tadi pagi dapat menghiburku, aku
lebih ingin berdialog dengannya dibandingkan dengan suara dini hari.
14.30 WIB (Tiga puluh menit sebelum perpustakaan tutup)
Aku masih belum berpindah tempat dengan suasana hati yang sama seperti satu jam yang lalu,
namun aku tetap membaca lembar demi lembar dari buku kuning yang kutemukan secara tidak
sengaja di rak kayu nomor 03. Aku masih berharap suara pagi hari datang dan berdialog
denganku di waktu ini.

14.40 WIB

Sepuluh menit berlalu dan aku masih mengharapkan kehadiran suara pagi hari.
“Huft.. mungkin suara itu akan muncul besok pagi bukan sekarang” pikirku sebelum
kuselesaikan dua paragraf terakhir dari bab empat.
“Memenuhi kepalamu dengan pikiran betapa kewalahannya kamu, hanya akan memperburuk
masalah dan membuatmu merasa lebih tertekan daripada yang seharusnya, berdamailah dengan
ketidaksempurnaanmu dan biarkan orang lain menikmati rasa bangganya masing-masing” tulis
dua paragraf terakhir yang berhasil membuatku tersentak sesaat.
Bukan karena aku berhasil menyelesaikan 4 bab dalam waktu singkat tapi karena aku sadar suara
pagi hari berbicara kepadaku melalui buku bersampul kuning itu. Aku yakin itu suara pagi hari,
aku mengenalnya dan aku bisa merasakan kedamaian itu, suasana damai yang aku rasakan setiap
pagi. Aku terdiam, memejamkan mata dan berusaha merasakan keberadaannya.
“Benarkah begitu ? Benarkah apa yang dikatakan suara dini hari tentangku ?” Tanyaku
meminta validasinya
“Itu pilihanmu” Jawabnya singkat
“Pilihan ? Maksudnya apa ?” Tanyaku penasaran
“Kamu akan selalu berdialog dengan suara dini hari, tapi untuk urusan percaya dengannya atau
tidak, itu pilihanmu”
Belum sempat aku menjawabnya, seseorang menepuk pundakku, nampaknya dia gadis yang aku
temui saat di resepsionis depan tadi, dan mungkin dia mengira aku tertidur pulas saat membaca
buku.
“Maaf kak, sudah jam tiga sore, jam kunjungan perpustakaannya sudah habis, jika kakak mau
pinjam bukunya silakan langsung ke counter peminjaman ya, terimakasih” Katanya dengan
sopan

"Oh iya ya, thank you ya, maaf hampir kebablasan” Jawabku sambil merapikan barang-
barangku dan langsung bergegas ke counter peminjaman buku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

15.10 WIB (Dalam perjalanan pulang)

Langkah demi langkah aku berjalan, menyusuri trotoar pinggiran balaikota , ditengah perjalanan
aku tiba-tiba penasaran, apakah suara pagi hari dan dini hari hanya berbicara kepadaku, atau ada
orang lain yang merasakan apa yang kurasakan setiap berdialog dengan mereka ?. Entahlah lebih
baik pulang saja dulu, mataku sudah mulai mengantuk dan perutku sudah mulai lapar.
15.25 WIB (Dalam perjalanan pulang, dalam angkutan kota)
15 menit aku berjalan kaki, akhirnya aku memutuskan untuk naik angkutan kota yang sedang
berhenti disebrang jalan sana. Aku duduk di posisi sudut, tepat dibelakang sopir muda
seumuranku dengan temannya yang duduk di kursi sebelah kirinya, dan satu anak laki-laki
lengkap dengan seragam pramuka duduk berhadapan denganku.
Sopir muda itu mulai menginjak pedal gas dengan pelan sambil memanggil calon-calon
penumpangnya yang kurasa tidak berminat untuk menaiki angkotnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu berlalu dan dia memutuskan untuk mengantar para penumpangnya sampai di
pemberhentian mereka , walaupun aku yakin kedua laki-laki muda itu masih terus berharap ada
penumpang lain yang naik angkot nya selain kami berdua.

Ditengah perjalanan, aku hanya terdiam memperhatikan jalanan yang kulewati, melihat toko-
toko di sepanjang jalan dan para budak korporat yang hanya ingin cepat-cepat sampai dirumah.

Diwaktu yang sama anak laki-laki yang ada dihadapanku berkata “Bang kiri bang, gang damai
ya” Ujarnya dengan sedikit berteriak.
Ia turun dari angkot dan menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah untuk membayar
tumpanganya .
“Gaada uang kecil dek ? Buat bayar angkot doang kali” Tanya si sopir muda itu sambil mencari
uang kembalian dan menyodorkannya ke anak laki-laki itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung menginjak pedal gasnya membuat angkot kami melaju dengan
kencang, entah apa yang dia sedang pikirkan hingga terlihat muram dan kesal.
“Heran... anak kecil zaman sekarang duitnya banyak banget, ngalahin yang kerja kayak kita,
yang kerja siang malam aja kekurangan mulu, ujungnya malah kecewa sama hidup” Keluhnya
pada teman disampingnya
"Hahahahahahahaha, setuju bro, tapi lebih baik bersyukur aja kan ? Kalau mikirnya kurang
terus pasti gabakal puas ujungnya pasti kecewa terus, jadi bersyukur sama apa yang ada dan
nikmatin aja hidup lo” Jawab temannya dengan penuh tawa dan senyuman.
Saat itu aku sadar suara pagi hari kembali berbicara padaku melalui dialog nyata orang lain,
Dialog itu membuatku tersadar, mungkin suara dini hari tidak hanya menghantuiku saja, tapi ia
datang pada banyak orang, namun kami memiliki pilihan untuk menyetujui semua pernyataan
dan pertanyaannya atau memilih untuk bersyukur dan menganggap suara dini hari hanyalah
bagian dari ilusi kehidupan yang bahkan tidak pernah terjadi.
Dan aku... Aku memilih untuk percaya kalau suara dini hari hanyalah ilusi dari kehidupanku
Namun lain hal dengan suara pagi , dia bukan hanya sekedar suara, dia adalah dialog yang nyata, dia hadir disetiap langkah kakiku, menjadi saksi dari semua dialog-dialog nyata dihidupku, dan
yang pasti dia adalah dialog yang selalu menemani ku layaknya bayanganku .
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

23.59 WIB (satu menit sebelum dialog dini hari)

Nampaknya malam ini aku akan menghadapi dialog dini hari lagi, tapi kali ini suara pagi
menemani dan meyakinkanku kalau ilusi akan selalu menjadi ilusi dan kehadirannya akan selalu
membuatku merasa betapa berharganya hidup yang kujalanin detik ini, hari ini, saat ini. Bagiku
malam akan tetap menjadi malam, dan pagi akan selalu menjadi pagi, apa yang terjadi hari ini
cukuplah untuk hari ini, besok punya dialognya sendiri.

                                                                                                                    Cukup untuk dialog hari ini.

                                                                                                                                        -jez-
»»  Baca Selengkapnya...