Hening Nestapa Di Sudut Kota
by xqrhmnia
Lembayung terasa hampa di ujung buana.
Angin menyapa lirih menerpa wajah yang penuh nestapa.
Hiruk pikuk kota metropolitan menjadi saksi kerasnya dunia.
Langit yang dijunjung keharmonisan bersama tidak mampu memberikan upaya.
Sudut-sudut kolong jembatan dipenuhi oleh tangis kelaparan. Tangisnya penuh dengan harapan akan sesuap makanan.
Tiada hari mereka berupaya menyambung kehidupan.
Tiada hari mereka memikirkan rupiah yang dielukan.
Di setiap pinggir kota jalan, tatkala mereka bernyanyi sambil sesekali tertawa. Ditemani dengan senandung nada dan suara senar yang dipetik dengan seirama.
Dibalik tawa tersimpan duka yang tak terucap kata.
Sepasang netra mengintip dunia dari balik kardus seadanya.
Tidak ada lukisan indah di dinding hidup mereka.
Tidak ada dinding-dinding hangat di rumah impian mereka.
Hanya ada goresan luka demi luka yang dibiarkan mengering begitu saja.
Mereka tidak menuntut istana atau mahligai kemewahan.
Mereka tidak menuntut pakaian yang dihiasi oleh pernak-pernik bak berlian. Mereka hanya butuh tempat berteduh dikala hujan jadi teman harian. Tidak ada siapa pun yang bertanya nama mereka.
Tidak ada siapa pun yang mengenali mereka.
Keberadaan mereka seolah seperti hanya bayang-bayang semata. Antara ada dan tiada.
Transparan bak angin yang tidak terlihat mata.
Namun dalam kegelapan mereka tetap menyala.
Mereka tetap menyalak sumbu-sumbu kebahagiaan yang penuh suka cita. Mereka tetap bercerita tentang hal-hal kecil yang penuh gelak tawa.
Mereka berusaha untuk selalu menyalakan harapan dari bara semangat yang tersisa. Meskipun terpinggirkan dari tatanan dunia.
Mereka tetap manusia yang berjiwa sebagai sang pemilik mimpi yang penuh makna.






No comments:
Post a Comment