SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Friendship is not a lesson you can learn in the school. But you have not learned anything if you haven't learned the meaning of friendship. (Shufi Salsabila)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan merupakan hiasan kemakmuran serta tempat perlindungan dalam kesulitan. (Aristoteles)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri. (JOHN DEWEY)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Pendidikan mempunyai akar yang pahit tapi buahnya manis. (Aristoteles)

SELAMAT DATANG DI BEM PPKN

Di depan memberi teladan,Di tengah memberi bimbingan, Di belakang memberi dorongan. (Ki. Hajar Dewantara)

Tuesday, December 16, 2025

PUISI : Hening Nestapa Di Sudut Kota

 Hening Nestapa Di Sudut Kota 

by xqrhmnia 

Lembayung terasa hampa di ujung buana. 

Angin menyapa lirih menerpa wajah yang penuh nestapa. 

Hiruk pikuk kota metropolitan menjadi saksi kerasnya dunia. 

Langit yang dijunjung keharmonisan bersama tidak mampu memberikan upaya. 

Sudut-sudut kolong jembatan dipenuhi oleh tangis kelaparan. Tangisnya penuh dengan harapan akan sesuap makanan. 

Tiada hari mereka berupaya menyambung kehidupan. 

Tiada hari mereka memikirkan rupiah yang dielukan. 

Di setiap pinggir kota jalan, tatkala mereka bernyanyi sambil sesekali tertawa. Ditemani dengan senandung nada dan suara senar yang dipetik dengan seirama. 

Dibalik tawa tersimpan duka yang tak terucap kata. 

Sepasang netra mengintip dunia dari balik kardus seadanya. 

Tidak ada lukisan indah di dinding hidup mereka. 

Tidak ada dinding-dinding hangat di rumah impian mereka. 

Hanya ada goresan luka demi luka yang dibiarkan mengering begitu saja. 

Mereka tidak menuntut istana atau mahligai kemewahan. 

Mereka tidak menuntut pakaian yang dihiasi oleh pernak-pernik bak berlian. Mereka hanya butuh tempat berteduh dikala hujan jadi teman harian. Tidak ada siapa pun yang bertanya nama mereka. 

Tidak ada siapa pun yang mengenali mereka. 

Keberadaan mereka seolah seperti hanya bayang-bayang semata. Antara ada dan tiada. 

Transparan bak angin yang tidak terlihat mata. 

Namun dalam kegelapan mereka tetap menyala. 

Mereka tetap menyalak sumbu-sumbu kebahagiaan yang penuh suka cita. Mereka tetap bercerita tentang hal-hal kecil yang penuh gelak tawa.

Mereka berusaha untuk selalu menyalakan harapan dari bara semangat yang tersisa. Meskipun terpinggirkan dari tatanan dunia. 

Mereka tetap manusia yang berjiwa sebagai sang pemilik mimpi yang penuh makna.


»»  Baca Selengkapnya...

REVIEW FILM : SORE: Istri dari Masa Depan – Sebuah Refleksi Relasi dan Pilihan Hidup yang Tak Pernah Sederhana

 SORE: Istri dari Masa Depan – Sebuah Refleksi Relasi dan Pilihan Hidup yang Tak Pernah Sederhana

Film ini mungkin menjadi karya Yandy Laurens (penulis, sutradara) yang paling luas jangkauan interpretasinya di mata penonton, termasuk bagi saya sendiri. Sebagai penikmat SORE: Istri dari Masa Depan versi web series yang rilis tahun 2017, saya tentu antusias ketika mendengar kabar bahwa karya tersebut akan diadaptasi menjadi film panjang. Bukan sekadar karena nostalgia, tetapi karena cerita ini memang memiliki ruang renung yang dalam terutama bagi mereka yang sedang berada di persimpangan hidup, antara masa lalu yang belum sepenuhnya selesai dan masa depan yang belum benar-benar diyakini. Yandy Laurens sendiri dikenal sebagai sutradara yang tidak banyak bicara lewat dramatisasi visual, melainkan melalui kesenyapan adegan, kekuatan dialog, dan cara ia membiarkan karakternya tumbuh secara natural. SORE bukan film yang besar dalam skala produksi atau efek visual, tapi besar dalam skala makna dan emosi.Di tengah dominasi film-film romansa yang seringkali bersifat melodramatis atau klise, SORE hadir sebagai narasi reflektif yang mengajak penonton merenungkan konsekuensi dari pilihan hidup dan nilai komitmen dalam relasi. Review ini bukan hanya ingin menilai kualitas teknis film, tetapi lebih dari itu mencoba menangkap getaran perenungan yang ditawarkan film ini: tentang pilihan yang tampak kecil tapi berdampak besar, tentang cinta yang tidak selalu menyenangkan tapi perlu diperjuangkan, dan tentang hidup yang tak pernah sesederhana “hari ini” atau “nanti”. 

1. Sinopsis Singkat Film ini mengisahkan tokoh utama bernama Jonathan, pria muda urban yang menjalani kehidupan bebas, spontan, dan cenderung menolak komitmen dalam relasi. Suatu hari, seorang perempuan bernama Sore datang ke apartemennya dan mengaku sebagai istri Jonathan di masa depan. Kejadian itu memicu kebingungan dan penyangkalan. Namun, seiring berjalannya waktu, Sore menunjukkan bukti-bukti masa depan yang meyakinkan dan perlahan membentuk ikatan emosional dengan Jonathan. Film ini terbagi menjadi enam episode pendek, dan alur berkembang melalui percakapan harian, kilas balik, serta situasi-situasi yang membawa Jonathan pada perenungan terhadap masa depannya. Cerita tidak dibangun dengan ketegangan tinggi atau konflik besar, melainkan dengan kontemplasi yang mengandung keheningan, tanda tanya, dan harapan. 

2. Analisis Film 

a. Tema dan Gagasan Sentral Tema utama dari SORE adalah tentang kesadaran akan konsekuensi pilihan, terutama dalam konteks hubungan antarpribadi dan masa depan. Film ini menyampaikan gagasan bahwa setiap keputusan, sekecil apapun, akan membentuk jalan hidup seseorang. Lewat figur Sore, masa depan ditampilkan sebagai sesuatu yang hidup, bukan sebagai misteri semata, tetapi sebagai refleksi dari tindakan kita hari ini. Film ini juga menyinggung nilai komitmen emosional, yang dalam era relasi digital dan serba cepat saat ini mulai dianggap sebagai beban. Tokoh Jonathan mewakili tipikal pria modern yang merasa memiliki banyak pilihan, namun pada saat bersamaan mengalami kekosongan dan ketidakpastian eksistensial. Sementara itu, karakter Sore hadir sebagai representasi dari kemungkinan terbaik yang hanya bisa diraih melalui kedewasaan dan tanggung jawab emosional. 

b. Karakter dan Akting Dion Wiyoko membawakan karakter Jonathan dengan gestur dan ekspresi yang cukup realistis: ragu, sinis, namun menyimpan ketakutan akan kehilangan. Karakter ini tidak dibentuk secara hitam-putih, tetapi lebih sebagai manusia yang berada di persimpangan pilihan hidup. Sementara itu, Adinia Wirasti tampil sangat meyakinkan sebagai Sore: tenang, sabar, penuh empati, namun juga menyimpan luka batin dari masa depan yang belum tentu akan terwujud. Aktingnya berhasil membangun empati penonton. Interaksi keduanya menciptakan dinamika relasi yang hangat, dalam, dan bermakna. Chemistry yang dibangun tidak berbasis pada romansa klise, tetapi pada ketulusan dan rasa kehilangan yang perlahan dirasakan sepanjang cerita. 

c. Sinematografi dan Artistik Gaya visual SORE cenderung minimalis namun estetis. Banyak adegan dilakukan di dalam ruangan dengan cahaya matahari pagi atau senja yang menyimbolkan waktu dan perubahan. Pilihan warna hangat menciptakan kesan rumah dan keakraban, namun juga kontras dengan kesepian batin tokoh utama. Pengambilan gambar close-up dimanfaatkan untuk menggambarkan ekspresi batin tokoh, sedangkan penggunaan long take dan dialog panjang menunjukkan intensitas hubungan yang dibangun secara emosional, bukan instan. Estetika film ini tidak mencolok, tapi berhasil membangun suasana yang mendalam dan intim. 

d. Dialog dan Narasi Dialog dalam film ini adalah kekuatan utama. Kalimat-kalimat yang diucapkan Sore seringkali filosofis namun sederhana: “Kalau kamu tahu masa depan kamu buruk, apa kamu akan tetap menjalani hidup dengan cara yang sama?” Kalimat seperti ini membawa penonton kepada refleksi diri, bukan sekadar menonton cerita orang lain. Narasi yang dibangun juga menarik karena tidak bergantung pada konflik besar. Alur berjalan dengan ketenangan dan ruang sunyi, memungkinkan penonton mencerna setiap pilihan tokoh. Ini menunjukkan kematangan penulisan naskah dan kekonsistenan gaya bercerita Yandy Laurens. 

e. Musik dan Efek Suara Musik latar dalam film ini tidak dominan, namun justru memperkuat suasana batin tokoh. Beberapa lagu latar digunakan secara emosional pada titik-titik krusial, misalnya ketika Jonathan mulai mempertanyakan kehidupannya sendiri. Kehadiran efek suara dan keheningan di beberapa adegan memberi bobot emosional lebih kuat, menciptakan ruang kontemplatif. Penempatan musik tidak digunakan untuk menggiring emosi, melainkan sebagai amplifikasi suasana yang sudah dibentuk secara visual dan dialog. 

f. Penyutradaraan oleh Yandy Laurens Gaya penyutradaraan Yandy Laurens dikenal halus, tenang, dan fokus pada kedalaman karakter. Dalam SORE, Laurens tidak menggunakan efek fiksi ilmiah secara eksplisit, tetapi lebih menekankan pada aspek relasional dan moral dari perjalanan waktu. Ia membiarkan tokoh mengalami transformasi batin tanpa perlu penceritaan spektakuler. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa narasi kuat tidak memerlukan kemewahan produksi, tetapi cukup dengan cerita yang tulus, penulisan naskah yang matang, serta akting yang jujur. Yandy Laurens menempatkan dirinya bukan sebagai sutradara yang mendominasi cerita, tetapi sebagai pengarah emosi yang menghormati ruang tumbuhnya karakter dan emosi penonton. 

3. Pesan Moral dan Relevansi Kontemporer Film SORE: Istri dari Masa Depan membawa pesan moral tentang pentingnya tanggung jawab dalam mencintai seseorang, serta keberanian untuk memilih dengan sadar. Dalam dunia di mana komitmen sering ditunda, dan hubungan diwarnai ketakutan akan masa depan, film ini menawarkan perenungan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari “memiliki segalanya”, tetapi dari keberanian untuk menjalaninya bersama seseorang dengan segala konsekuensinya. Relevansi film ini terasa kuat dalam konteks generasi milenial dan Gen Z yang kerap terjebak dalam krisis eksistensial, ketidakpastian arah hidup, dan gaya hidup yang sangat individualistis. Film ini menjadi semacam pengingat bahwa cinta dan relasi tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal keputusan untuk bertumbuh dan berkomitmen. 

4. Kesimpulan SORE: Istri dari Masa Depan bukan sekadar kisah fiksi tentang waktu dan pernikahan, melainkan refleksi tentang hidup, pilihan, dan tanggung jawab emosional. Dengan narasi yang intim, visual yang hangat, dan dialog yang sarat makna, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh kesadaran diri. Sebagai karya Yandy Laurens, SORE mempertegas posisi Laurens sebagai sutradara yang piawai dalam membangun cerita-cerita sederhana yang kaya akan makna. Film ini sangat layak dijadikan bahan kajian dalam konteks pendidikan karakter, psikologi relasi, maupun kajian budaya populer. 

»»  Baca Selengkapnya...

PUISI : AKU TAKUT, KABUT ASAP INI TIDAK AKAN PERNAH HILANG

 Aku takut, kabut asap ini tidak akan pernah hilang 

Oleh: Fitria Azhizah Hidayat

Entah sejak kapan kabut asap ini terus mengikutiku 

Menyelimuti tiap langkah yang ku ambil, merenggut dunia sekelilingku dengan tanpa sadar 

Taksirku mengatakan mungkin semenjak kau hembuskan kepadaku 

Bukan, ini bukan asap yang menyakitkan seperti yang kau kira 

Karena ku tahu kau juga tidak menyukainya bukan? 


Aku menyukai kabut asap ini, walau keberadaannya mengurangi jarak pandangku, membuat segalanya samar dan tak pasti 

Aku menyukainya, keberadaan kabut itu hangat dan lembut tak pernah menyakitkan, sama seperti dirimu  

Apa mungkin itu jelmaan dirimu? 

Entahlah...  

Aku tak tahu pasti, apakah ini benar atau hanya ilusi yang kubuat sendiri 

»»  Baca Selengkapnya...

PUISI : KALA SENJA RESAH KAGUM

Kala Senja Resah Kagum

Oleh : Xera

Wahai engkau, wanita berwajah sejuk, Ada yang tak kupahami dari senyummu mengapa ia mampu meruntuhkan sunyi, dan menenangkan badai di dada?

Lesung pipimu...

bukan sekadar lekuk manis, melainkan lengkung keindahan yang seolah-olah dilukis dengan tangan Tuhan sendiri, saat langit sedang tersenyum.

Aku membeku dalam pandangan itu, bukan karena dingin, melainkan karena hangatmu terlalu lembut untuk disentuh logika.

Setiap kali aku menatapmu, seakan cahaya dari langit jatuh pelan ke bumi,

mengenakan wajahmu sebagai perantara keindahan-Nya.

Wahai engkau, yang diam-diam mengguncang sunyiku, aku tak mengerti...

mengapa bibirku kelu setiap kali kau hadir,

mengapa kata-kata mati sebelum sempat lahir?


Tuhan...


mungkinkah ini lukisan terindah-Mu?

Karena dalam dirimu,

aku melihat secercah senyum-Mu yang menjelma manusia.

»»  Baca Selengkapnya...

PUISI : LEMBUT TANPA SUARA

 “Lembut Tanpa Suara” 

Oleh: Mauli Jasmin Awwali  


Ada beberapa hal yang tak semesta izinkan melayang ke permukaan 

Bukan lantaran rahasia 

Melainkan terlalu berbahaya jika dilihat dengan rasa 


Sebuah rasa yang terbentuk dari gegabah 

Namun justru tumbuh perlahan di sela-sela sunyi yang tak terucap 

Tanpa perlu “pengakuan” 

Sebab tanpa itu pun, ia tak pernah benar-benar hilang 


Mungkin aku bukan yang lihai mengekspresikan 

Namun diamku tak berarti tiada 

Ada berbagai cara untuk hadir 

Dan aku memilih yang paling lembut 


Aku bukan menanti 

atau meminta petunjuk arah 

Aku hanya ingin kamu tetap menjadi dirimu 

Meski bukan aku yang menggenggam langkahmu 


Jika suatu saat semesta membuatmu merasa lelah 

dan dunia terasa tak bersahabat 

Aku berharap kamu masih tahu di mana tempat kembali 

meskipun aku yang berada di sana 


Perasaan ini tak perlu diumumkan 

Ia tahu sendiri bagaimana caranya bertahan 

meski di dalam sunyi yang tak pernah kau baca dengan lantang 


»»  Baca Selengkapnya...

Sunday, December 14, 2025

PUISI : SATVA

SATVA

Karya : Manda Risdianti

Dikala sunyi diwajibkan 

bergerak pun di bungkam 

sang shanti bermuka dua 

tanah air pun di pertaruhkan


Satva pun dilahirkan 

anugraha menyongsong di balik layar 

Satva...

diam bagai bisu

bergerak mangalahkan cahaya


Harapan sebesar biji selasih 

keajaiban seakan sirna 

tindakan tak ternilai harganya 

rebut kembali sang shanti 

walau naraka akan menanti


Tapi kini perjuangan telah usai 

Kemenangan telah diraih 

Kebanggaan telah lahir 

Dari perjuangan yang tak kenal lelah 

Dari semangat yang tak pernah pudar 

Dari hati yang tak pernah menyerah


Sang shanti kini telah kembali 

Tanah air telah selamat 

Satva telah menemukan jati dirinya 

Anugraha telah menjadi kenyataan

Perjuangan telah membawa kebanggaan 

Dan kemenangan telah menjadi milik kita

»»  Baca Selengkapnya...

Saturday, December 14, 2024

Review Novel : Di Tanah Lada oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Review Novel : Di Tanah Lada oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Karya : Najwa Malika Putri

    Novel ini mengisahkan tentang kehidupan Ava, seorang anak enam tahun yang senang membaca kamus pemberian kakeknya, tinggal bersama orang tuanya yang kurang harmonis. Papa Ava digambarkan sebagai sosok kejam, pemarah, dan suka melakukan kekerasan hingga menciptakan suasana rumah yang tidak nyaman. Papa Ava sering kali menghabiskan uangnya untuk melakukan hal yang tidak berguna, sehingga anggota keluarganya yang terkena dampaknya. Ava lebih senang membaca kamus dari Kakek Kia, manusia baik hati yang berbeda dengan Papanya.

    Meskipun kisah Kakek Kia hanya sebentar di dalam novel ini, tetapi Kakek Kia memberikan dampak besar untuk kehidupan Ava. Setelah kematian Kakek Kia, Papa Ava bersuka cita karena bisa mendapatkan warisan besar. Tanpa izin kek Mama Ava, Papa Ava menjual rumah mereka dan pindah ke Rusun Nero, tempat yang tidak layak dihuni dan dekat dengan tempat judi, kesukaan Papa Ava.

    Di Rusun Nero, kehidupan Ava semakin sulit karena Papanya semakin kasar. Papa Ava memilih rusun tersebut karenan dekat dengan tempat perjudiannya. Mama Ava marah saat mengetahui lokasi perjudian Papanya dekat dengan rumah rusun Nero. Mendengar nasihat itu, Papa Ava menjadi agresif, menyebabkan pertengkaran hebat dengan Mama Ava. Ava sering mendengarkan pertengkaran mereka dari balik pintu, namun upayanya untuk mengintip selalu diketahui dan berujung pada tindakan kekerasan yang Ava dapatkan dari papanya.

    Pertemanan yang mereka jalani di rusun Nero itu membuat Ava menyadari bahwa P sering kali mendapatkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ava yang mengetahui kabar itu langsung terpikirkan bahwa apa yang dirasakan oleh P sama apa yang dirasakan dengan dirinya ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun, kekerasan yang diterima oleh P dari ayahnya bisa dibilang lebih parah dari Ava, tokoh P sering kali mendapatkan pukulan dari ayahnya dan tak jarang ayahnya P memukulnya dengan setrika yang panas.

    Ava dan P mulai berteman dekat, hingga akhirnya Ava dikenalkan dengan Mas Alri dan Kak Suri, kenalan baik yang selalu membantu P di Rusun Nero. Ava merupakan anak selalu bangga kepada P terutama terhadap ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya walaupun tidak menempuh sekolah. Begitu juga dengan P yang melihat Ava sebagai gadis kecil yang unik karena sering kali membawa kamus Bahasa Indonesia pemberian Kakek Kia.

    Pada suatu waktu, Papa Ava kembali menunjukkan perilaku kekerasan, mengecewakan Mama Ava. Akibatnya, Mama Ava memutuskan untuk meninggalkannya dan membawa Ava ke rumah Om Ari adik dari Mama Ava. Meski Ava awalnya setuju, ia kemudian memilih nekat untuk pergi dari meninggalkan mama dan kembali tinggal di rusun Nero bersama temannya, P, yang hidup dalam kondisi yang lebih sulit. Konflik memuncak ketika Ava diajak masuk ke rumah P, di mana terungkap bahwa kehidupan P jauh lebih sulit, bahkan hingga ayahnya melakukan kekerasan dengan setrika.

    Setelah P mendapatkan perilaku yang mengerikan oleh Ayahnya, membuat Ava berpikir untuk mengajak P melarikan diri ke tanah yang kaya akan lada, yaitu rumah nenek Isma, nenek Ava. Untuk perjalanan tersebut, mereka membutuhkan biaya, dan satu-satunya cara adalah dengan menjual handphone mereka agar dapat mencapai tujuan ke tanah lada. Dengan hanya bersandarkan pada keberanian dan keputusan yang nekat, Ava dan P memulai perjalanan panjang menuju rumah nenek Isma.
    Selama mereka menekat untuk ke rumah nenek Isma, Mama Ava terus menerus menghubungi ponsel yang Ava miliki, karena mama Ava yang khawatir akan kondisi anaknya. Mama Ava meminta bantuan kepada Mas Alri untuk menemukan Ava dan P. Hingga Mas Alri menemukan mereka berdua dan memutuskan untuk membantu mereka sampai dilokasi rumah Nenek Isma. Tidak lupa Mas Alri mengabari Mama Ava terkait kondisi dan posisi Ava saat itu. Mama Ava dan Om Ari memutuskan untuk menyusul Ava dan P ke rumah Nenek Isma dengan mobil yang berbeda saat Mas Alri mengantar Ava dan P.
    Di perjalanan menuju rumah Nenek Isma, Mas Arli memutuskan untuk berhenti disalah satu pantai untuk beristirahat dan mengajak Ava serta P melihat keindahan pantai ditempat itu. Di pantai tersebut terdapat penginapan yang akan mereka tempati untuk satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah nenek Isma yang harus menaiki Kapal Laut. Malam hari tiba, Mas Arli sudah tidur karena lelah seharian mengemudi, Ava yang sudah tidur juga langsung terbangun karena menyadari P tidak ada di dalam penginapan. Ava inisiatif mencari P diluar, sekitaran pantai dan berhasil menemukannya P yang sedang duduk memandangi pantai. Saat Ava menghampiri P, mereka berdua mengobrol serius selayaknya orang yang sudah dewasa. Hingga P mengajak Ava untuk berenang di pantai dengan kondisi yang sudah larut malam, berenang yang dimaksud oleh P adalah membiarkan diri mereka hilang dan lenyap bersama air pantai malam saat itu.

»»  Baca Selengkapnya...